STIT-MI – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara dunia pendidikan dijalankan. Proses pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada ruang kelas kini bergerak ke ruang-ruang virtual yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan adaptasi yang lebih tinggi.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada peserta didik, tetapi juga pada lembaga pendidikan tinggi yang bertugas menyiapkan calon pendidik, termasuk mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
Di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam seperti STIT Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan, perubahan tersebut perlu disikapi secara kritis dan proporsional. Mahasiswa PAI dan PGMI tidak cukup dibekali dengan penguasaan materi keilmuan dan pedagogik secara konvensional. Mereka juga dituntut untuk mampu membaca perubahan zaman, memahami karakter generasi digital, serta memanfaatkan teknologi pendidikan tanpa kehilangan orientasi nilai dan etika keislaman.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa dunia pendidikan saat ini dihadapkan pada banjir informasi, termasuk informasi keagamaan yang beredar luas melalui media digital.
Tidak seluruh informasi tersebut memiliki dasar keilmuan yang kuat atau disampaikan secara bertanggung jawab. Dalam konteks ini, mahasiswa PAI dan PGMI memiliki peran strategis sebagai calon pendidik yang kelak akan menjadi rujukan keagamaan dan moral bagi peserta didik. Oleh karena itu, penguatan kompetensi literasi digital dan kemampuan berpikir kritis menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
Penguatan kompetensi mahasiswa PAI dan PGMI seyogianya dipahami sebagai proses yang bersifat menyeluruh. Kompetensi akademik tetap menjadi fondasi utama, terutama penguasaan ilmu keislaman, pedagogik, dan kurikulum pendidikan.
Namun, fondasi tersebut perlu dilengkapi dengan kemampuan mengembangkan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual, sejalan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan peserta didik.
Di STIT Makrifatul Ilmi, upaya penguatan kompetensi mahasiswa dapat diarahkan melalui integrasi teknologi dalam proses pembelajaran secara bertahap dan terukur. Pemanfaatan media pembelajaran digital, diskusi daring, serta tugas-tugas berbasis proyek menjadi sarana untuk melatih mahasiswa agar terbiasa berpikir kreatif dan solutif.
Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan nilai-nilai tradisional pendidikan Islam, melainkan memperkuat relevansinya di tengah perubahan zaman.
Di samping kompetensi akademik dan digital, aspek kepribadian dan spiritual tetap menempati posisi sentral. Pendidikan Islam pada hakikatnya bertujuan membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak.
Oleh karena itu, mahasiswa PAI dan PGMI perlu dibimbing agar memiliki integritas moral, keteladanan sikap, serta kesadaran spiritual yang tercermin dalam kehidupan akademik maupun sosial. Nilai-nilai ini justru menjadi pembeda utama lulusan perguruan tinggi keagamaan Islam di tengah arus modernisasi pendidikan.
Pengalaman praktik lapangan, pengabdian kepada masyarakat, dan interaksi langsung dengan realitas sosial pendidikan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kompetensi tersebut.
Melalui pengalaman nyata, mahasiswa belajar memahami kompleksitas dunia pendidikan, sekaligus mengasah kepekaan sosial dan tanggung jawab profesinya sebagai calon guru.
Dalam konteks pendidikan modern, peran guru telah mengalami pergeseran. Guru tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator dan pembimbing yang membantu peserta didik menemukan makna belajar.
Mahasiswa PAI dan PGMI perlu dipersiapkan untuk menjalankan peran ini dengan pendekatan yang adaptif, dialogis, dan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Penguatan kompetensi mahasiswa PAI dan PGMI di era pendidikan digital pada akhirnya merupakan bagian dari upaya menjaga relevansi pendidikan Islam itu sendiri.
Perguruan tinggi keagamaan Islam, termasuk STIT Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan, memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk memastikan bahwa lulusannya tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga matang secara intelektual dan spiritual.
Penguatan kompetensi mahasiswa PAI dan PGMI tidak dapat dipandang sebagai pilihan tambahan, melainkan sebagai kebutuhan mendasar dalam menjawab perubahan lanskap pendidikan. Tanpa proses pendidikan yang berkelanjutan dan berorientasi pada pengembangan kompetensi secara utuh, lulusan perguruan tinggi keagamaan Islam berisiko kehilangan relevansi di tengah dinamika pendidikan digital.
Oleh karena itu, pembekalan keilmuan, keterampilan pedagogik, serta kesadaran spiritual yang seimbang menjadi prasyarat utama agar mahasiswa PAI dan PGMI mampu tampil sebagai pendidik profesional yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam penguatan kualitas pendidikan Islam di masa depan.
Opini Akademik ini ditulis oleh Kepala BAAK



