STIT-MI – Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai pusat pembinaan umat di tengah dinamika masyarakat modern. Hal tersebut diungkapkan dalam artikel ilmiah berjudul “Peran Masjid sebagai Pusat Pembinaan Umat di Masyarakat Modern” karya Liza Wahyuninto, dosen STIT Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan, yang dimuat dalam El Makrifah: Jurnal Ilmiah STIT Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan.
Melalui penelitian kualitatif dengan metode studi lapangan, Liza Wahyuninto mengkaji secara mendalam bagaimana masjid menjalankan fungsi keagamaan, sosial, dan pemberdayaan umat di tengah perubahan sosial, budaya, dan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masjid tetap berperan signifikan dalam pembinaan keagamaan melalui berbagai program seperti pengajian, kajian tafsir dan hadis, majelis taklim, serta pembelajaran Al-Qur’an untuk berbagai kelompok usia.
Selain itu, masjid juga berkontribusi dalam penguatan solidaritas sosial masyarakat melalui penyaluran zakat, infak, dan sedekah, kegiatan sosial kemasyarakatan, serta program bantuan bagi yatim dan dhuafa. Beberapa masjid bahkan mulai mengembangkan program pemberdayaan ekonomi dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana dakwah melalui media sosial dan siaran kajian daring.
Namun demikian, penelitian ini juga mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi masjid di era modern, antara lain keterbatasan dana, manajemen yang belum optimal, rendahnya literasi digital, serta minimnya keterlibatan generasi muda. Meski begitu, komitmen pengurus masjid, dukungan jamaah, dan lingkungan sosial yang religius menjadi faktor penting yang mendukung keberlanjutan peran masjid.
Penelitian ini menegaskan bahwa dengan pengelolaan yang profesional, inovasi program yang relevan, serta pemanfaatan teknologi yang tepat, masjid memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai pusat pembinaan umat yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat modern.



