• Call: +60 8 123 000
  • E-mail: info@gmail.com
  • Login
Education Blog
  • Home
  • About Us
    • History
    • Vision, Mission & Objective
    • Motto
    • Strategic Plan
    • Organization
    • Mars
  • Academics
    • Academic Calender
    • Academic Guideline
  • Classis
    • Management
    • Teaching
    • Stories
    • Learning
    • Studying
    • Remedy
  • Tarbiyah
    • Prodi PAI
    • Prodi PGMI
  • Campus Life
    • Facilities
    • What is Campus Life
    • Student Organizations
    • Alumni Organization
  • PMB
  • Siakad
  • Journal
    • OJS el_Makrifah
    • ISSN
  • Info
No Result
View All Result
STIT MI BENGKULU SELATAN
No Result
View All Result
Home Article

Rahmat atau Ancaman? Menegaskan Kembali Wajah Islam di Tengah Narasi Global yang Keliru

officialstitmi by officialstitmi
July 28, 2026
in Article
0
Pengertian, Tujuan, Dasar, dan Fungsinya

Pengertian, Tujuan, Dasar, dan Fungsinya

Share on FacebookShare on Twitter

STIT-MI – Di tengah derasnya arus informasi global, citra Islam tidak jarang dibentuk oleh pemberitaan yang mengaitkannya dengan konflik, radikalisme, dan kekerasan. Akibatnya, ajaran Islam yang sejatinya membawa misi perdamaian sering kali tertutup oleh narasi yang menyederhanakan agama ini sebagai sumber ancaman. Berangkat dari realitas tersebut, Nurul Himmatul Nisa menghadirkan kajian yang mengajak pembaca kembali menelusuri makna mendasar rahmatan lil ‘ālamīn, sebuah konsep yang menjadi inti misi kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Melalui penelitian kepustakaan yang mengkaji Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab tafsir, serta pemikiran ulama klasik dan cendekiawan Muslim kontemporer, penelitian ini menunjukkan bahwa rahmat dalam Islam bukan sekadar slogan teologis, melainkan prinsip yang membentuk seluruh aspek kehidupan. Nilai tersebut diwujudkan dalam keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, perlindungan terhadap lingkungan, serta pengakuan atas keberagaman sebagai bagian dari sunnatullah.

Penelitian ini juga mengulas Piagam Madinah sebagai bukti historis bahwa Islam sejak awal membangun masyarakat yang menjunjung kebebasan beragama, keadilan, dan hidup berdampingan. Di sisi lain, berbagai narasi yang menghubungkan Islam dengan kekerasan dipandang lahir dari pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an secara parsial tanpa memperhatikan konteks historis maupun tujuan utama syariat.

Yang menarik, penelitian ini tidak berhenti pada pembahasan normatif. Konsep rahmatan lil ‘ālamīn diposisikan sebagai jawaban atas berbagai tantangan dunia modern, mulai dari intoleransi, konflik sosial, ketimpangan ekonomi, hingga krisis lingkungan. Islam dipahami bukan hanya sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai fondasi etis dalam membangun peradaban yang adil, damai, dan berkelanjutan.

Kajian ini memperlihatkan bahwa ketika ajaran Islam dipahami secara utuh, yang tampak bukanlah wajah kekerasan, melainkan nilai kasih sayang yang melintasi batas agama, suku, maupun bangsa. Dengan demikian, penelitian ini menjadi kontribusi akademik yang penting dalam memperkuat narasi Islam moderat sekaligus meluruskan berbagai kesalahpahaman yang masih berkembang di ruang publik.

Ketika Islam Terus Dikaitkan dengan Kekerasan, Penelitian Ini Mengajak Dunia Membaca Ulang Makna Rahmatan Lil ‘Alamin

Mengapa agama yang mengajarkan kasih sayang justru sering diberitakan bersama ledakan bom, konflik, dan ekstremisme? Pertanyaan itu terus mengemuka setiap kali terjadi aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Di ruang publik global, citra Islam kerap dibentuk oleh potongan-potongan peristiwa yang menutupi wajah ajaran Islam yang sesungguhnya.

Narasi inilah yang menjadi titik berangkat penelitian Nurul Himmatul Nisa dalam artikel berjudul Islam Bukan untuk Menghancurkan Tapi Menjadi Rahmat bagi Semua Makhluk, yang diterbitkan pada Jurnal El-Makrifah Volume 4 Nomor 1 Tahun 2026.

Alih-alih membahas isu radikalisme dari sudut pandang politik atau keamanan, penelitian ini memilih kembali kepada sumber utama ajaran Islam, yakni Al-Qur’an dan hadis. Tujuannya sederhana namun mendasar: menjawab pertanyaan apakah Islam memang lahir sebagai agama yang membawa ancaman, atau justru sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Melalui pendekatan studi pustaka, penulis menelaah ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis sahih, karya para mufasir klasik, hingga pemikiran tokoh Muslim kontemporer seperti Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Fazlur Rahman, dan Nurcholish Madjid. Kajian tersebut menghasilkan satu benang merah yang kuat: misi utama Islam adalah membangun kehidupan yang berkeadilan, penuh kasih sayang, dan menghormati martabat seluruh makhluk.

Penelitian ini menegaskan bahwa konsep rahmatan lil ‘ālamīn bukan sekadar ungkapan yang sering dikutip dalam ceramah keagamaan. Konsep tersebut merupakan fondasi teologis yang menempatkan kasih sayang sebagai inti ajaran Islam. Rahmat itu tidak hanya ditujukan kepada umat Islam, tetapi juga kepada seluruh manusia, bahkan kepada lingkungan hidup dan seluruh makhluk ciptaan Allah SWT.

Menariknya, penelitian ini menghadirkan bukti historis yang sering luput dari perhatian, yakni Piagam Madinah. Dokumen yang disusun Nabi Muhammad SAW tersebut menunjukkan bahwa sejak awal Islam telah membangun masyarakat yang menghormati keberagaman agama, menjamin hak warga negara, dan mendorong hidup berdampingan secara damai. Fakta sejarah ini menjadi sanggahan terhadap anggapan bahwa Islam identik dengan eksklusivisme atau penolakan terhadap perbedaan.

Lebih jauh lagi, penelitian ini mengkritisi munculnya narasi kekerasan atas nama Islam. Menurut penulis, sebagian besar kesalahpahaman lahir karena ayat-ayat tentang perang dibaca secara terpisah dari konteks sejarah dan tujuan syariat. Padahal, para ulama tafsir sejak dahulu telah menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut berkaitan dengan situasi tertentu dan tidak dapat dijadikan legitimasi untuk tindakan kekerasan tanpa dasar.

Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa nilai rahmatan lil ‘ālamīn memiliki relevansi yang sangat kuat terhadap berbagai persoalan dunia saat ini. Di tengah meningkatnya intoleransi, polarisasi sosial, perubahan iklim, hingga ketimpangan ekonomi, Islam menawarkan seperangkat nilai etis yang berpijak pada keadilan, keseimbangan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan tanggung jawab menjaga lingkungan.

Dalam konteks Indonesia, semangat tersebut tercermin melalui penguatan moderasi beragama yang menempatkan toleransi, komitmen kebangsaan, penolakan terhadap ekstremisme, serta penghormatan terhadap kemanusiaan sebagai bagian dari praktik keberagamaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa moderasi bukan bentuk kompromi terhadap akidah, melainkan cara menghadirkan ajaran Islam secara utuh di tengah masyarakat yang majemuk.

Tidak berhenti pada aspek sosial, penelitian ini bahkan mengajak pembaca melihat Islam sebagai proyek peradaban masa depan. Nilai-nilai rahmat diposisikan sebagai jawaban atas berbagai krisis global yang membutuhkan pendekatan kemanusiaan, bukan sekadar solusi teknis.

Melalui artikel ini, Jurnal El-Makrifah kembali menghadirkan kajian yang relevan dengan dinamika dunia kontemporer. Penelitian Nurul Himmatul Nisa tidak sekadar mengulas konsep teologis, tetapi juga mengajak pembaca memahami bahwa wajah Islam yang sesungguhnya dibangun di atas prinsip kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Di tengah derasnya arus informasi yang kerap membentuk persepsi secara instan, penelitian ini menjadi pengingat bahwa memahami agama tidak cukup melalui potongan-potongan berita atau narasi media. Islam, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an, hadir bukan untuk menebarkan ketakutan, melainkan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Baca Artikel Penelitiannya: 

Islam Bukan Untuk Menghancurkan Tapi Menjadi Rahmat Bagi Semua Makhluk

Nurul Himmatul Nisa (Author)

Ringkasan

Benarkah Islam identik dengan kekerasan? Penelitian Nurul Himmatul Nisa yang diterbitkan dalam Jurnal El-Makrifah Vol. 4 No. 1 Tahun 2026 mengajak pembaca melihat kembali hakikat ajaran Islam melalui konsep rahmatan lil ‘ālamīn. Berdasarkan kajian Al-Qur’an, hadis, serta pemikiran ulama klasik dan kontemporer, penelitian ini menunjukkan bahwa Islam dibangun di atas nilai kasih sayang, keadilan, toleransi, dan penghormatan terhadap seluruh makhluk.

Piagam Madinah, prinsip maqāṣid al-syarī’ah, hingga gagasan moderasi beragama menjadi bukti bahwa Islam hadir untuk membangun peradaban yang damai, bukan melegitimasi kekerasan. Kajian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa memahami Islam harus dilakukan secara utuh, bukan melalui narasi yang terpotong-potong. (*)

Tags: OJS
Previous Post

Media Sosial Mempermudah Ghibah? Penelitian Ini Mengingatkan Kembali Pesan Al-Qur’an dan Hadis

Next Post

Dakwah yang Merangkul, Bukan Menghakimi: Wasathiyah sebagai Jalan Merawat Kerukunan di Tengah Keberagaman

officialstitmi

officialstitmi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dr. H. Abdullah Munir, M.Pd.

Most commented

Dakwah yang Merangkul, Bukan Menghakimi: Wasathiyah sebagai Jalan Merawat Kerukunan di Tengah Keberagaman

Rahmat atau Ancaman? Menegaskan Kembali Wajah Islam di Tengah Narasi Global yang Keliru

Media Sosial Mempermudah Ghibah? Penelitian Ini Mengingatkan Kembali Pesan Al-Qur’an dan Hadis

Bisakah Sebuah Tradisi Adat Berjalan Seiring dengan Ajaran Islam?

Tradisi Basuh Dusun di Bengkulu Selatan Dikaji dari Perspektif Aswaja, Begini Temuan Penelitinya

Basuh Dusun: Ketika Hukum Adat, Moralitas, dan Nilai Aswaja Bertemu dalam Menjaga Keharmonisan Masyarakat

STIT MI BENGKULU SELATAN

Official Website | Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan

Tags

#Munaqasyah #PPL #STITMI #STIT-MI #STITMI #stit_mi #Ujian_Komprehensif #Yudisium Abdullah Munir Akademik Akreditasi Arif Luthfi Artikel BAAK Beasiswa Canva CEL Dema Dosen Guru HSN Kampus Karakter Kompetisi Kukerta Kuliah Liza Wahyuninto Mahasiswa Maulid Nabi MoU Official OJS PAI Pembinaan Peta Konsep PKKMB pmb Prestasi Proposal Seminar Serdos Sinopsis Skripsi Surismi Nada Puspa Workshop Yeni Wulandari

Recent News

Dakwah yang Merangkul, Bukan Menghakimi: Wasathiyah sebagai Jalan Merawat Kerukunan di Tengah Keberagaman

Dakwah yang Merangkul, Bukan Menghakimi: Wasathiyah sebagai Jalan Merawat Kerukunan di Tengah Keberagaman

July 28, 2026
Pengertian, Tujuan, Dasar, dan Fungsinya

Rahmat atau Ancaman? Menegaskan Kembali Wajah Islam di Tengah Narasi Global yang Keliru

July 28, 2026

© by: Suport | 2021 | STIT MI Official.

No Result
View All Result
  • Home
  • About Us
    • History
    • Vision, Mission & Objective
    • Motto
    • Strategic Plan
    • Organization
    • Mars
  • Academics
    • Academic Calender
    • Academic Guideline
  • Classis
    • Management
    • Teaching
    • Stories
    • Learning
    • Studying
    • Remedy
  • Tarbiyah
    • Prodi PAI
    • Prodi PGMI
  • Campus Life
    • Facilities
    • What is Campus Life
    • Student Organizations
    • Alumni Organization
  • PMB
  • Siakad
  • Journal
    • OJS el_Makrifah
    • ISSN
  • Info

© by: Suport | 2021 | STIT MI Official.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In