Abstrak
Artikel ini membahas integrasi Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan Kurikulum Merdeka yang sedang diterapkan di Indonesia. Kurikulum Merdeka menekankan fleksibilitas, diferensiasi, serta penguatan karakter. Integrasi PAI dengan kurikulum ini penting untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berkarakter religius. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan analisis kualitatif terhadap literatur akademik dan hasil penelitian terbaru. Hasil kajian menunjukkan bahwa PAI dapat diintegrasikan secara efektif melalui pembelajaran berbasis proyek, diferensiasi pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital. Temuan ini menegaskan urgensi inovasi pedagogis dalam PAI agar selaras dengan kebutuhan Kurikulum Merdeka dan tantangan era digital.
Kata Kunci: Pendidikan Agama Islam, Kurikulum Merdeka, Integrasi, Inovasi Pedagogis
Pendahuluan
Kurikulum Merdeka yang diluncurkan pemerintah Indonesia bertujuan memberikan ruang bagi guru dan peserta didik untuk berkreasi dalam proses belajar mengajar. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, diferensiasi, serta pembelajaran berbasis proyek. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), integrasi dengan Kurikulum Merdeka memiliki peran signifikan dalam membentuk karakter religius, memperkuat nilai moral, serta menanamkan kompetensi sosial-spiritual pada generasi muda.
Baca Juga: Peran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Siswa
Namun, implementasi integrasi ini menghadapi tantangan, seperti kesiapan guru PAI, keterbatasan literasi digital, serta kesenjangan fasilitas pendidikan di berbagai daerah. Oleh karena itu, diperlukan strategi konkret agar PAI dapat berperan optimal dalam kerangka Kurikulum Merdeka.
Kajian Pustaka
Penelitian terbaru menyoroti pentingnya penerapan model pembelajaran berbasis proyek dalam PAI yang relevan dengan semangat Kurikulum Merdeka (Jauhari & Thelma, 2024). PBL memungkinkan peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif, sekaligus memperkuat pemahaman nilai-nilai Islam.
Selain itu, pendekatan Differentiated Instruction telah diteliti secara luas sebagai strategi kunci dalam Kurikulum Merdeka. Herwanto dan Musyarrofah (2024) menunjukkan bahwa penerapan diferensiasi dalam PAI mampu mengakomodasi keragaman gaya belajar siswa, meski menghadapi tantangan teknis dan pedagogis.
Kajian lain menekankan pentingnya penguatan PAI di era digital, di mana teknologi dapat dimanfaatkan untuk membentuk pemahaman agama yang moderat dan kontekstual (Akhyar et al., 2024). Hal ini sejalan dengan tujuan Kurikulum Merdeka yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Metode Penelitian
Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Sumber data terdiri dari artikel jurnal internasional bereputasi, prosiding, dan laporan penelitian yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir. Data dianalisis melalui teknik analisis isi (content analysis) untuk menemukan pola integrasi PAI dengan Kurikulum Merdeka.
Hasil dan Pembahasan
Hasil kajian menunjukkan tiga strategi utama dalam integrasi PAI dengan Kurikulum Merdeka:
- Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL). Melalui PBL, siswa dapat mengaitkan nilai-nilai Islam dengan kehidupan nyata, misalnya dalam proyek kewirausahaan syariah atau kegiatan sosial berbasis masjid. Hal ini mendukung penguatan karakter sekaligus keterampilan abad 21 (Jauhari & Thelma, 2024).
- Differentiated Instruction. Strategi ini memungkinkan guru PAI menyesuaikan materi, metode, dan penilaian sesuai kebutuhan siswa. Implementasi ini terbukti meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran PAI (Herwanto & Musyarrofah, 2024).
- Pemanfaatan Teknologi Digital. Integrasi platform digital seperti aplikasi belajar Al-Qur’an, video interaktif, dan Learning Management System (LMS) mendorong terciptanya pembelajaran PAI yang adaptif, kontekstual, dan menarik bagi generasi Z (Akhyar et al., 2024).
Namun, integrasi ini menghadapi kendala berupa rendahnya kompetensi digital guru, keterbatasan infrastruktur sekolah, dan resistensi terhadap perubahan metode pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan berkelanjutan dan dukungan kebijakan dari pemerintah.
Kesimpulan
Integrasi Pendidikan Agama Islam dengan Kurikulum Merdeka dapat diwujudkan melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek, diferensiasi, dan pemanfaatan teknologi digital. Integrasi ini tidak hanya memperkuat aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik peserta didik dalam kerangka religius. Keberhasilan integrasi sangat ditentukan oleh kesiapan guru, dukungan infrastruktur, dan kebijakan yang adaptif. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi model integrasi PAI dalam berbagai jenjang pendidikan.
Daftar Pustaka
- Akhyar, M., Rizal, M., & Fajri, M. (2024). The Importance of Religious Education in the Digital Era. International Journal of Islamic Education Research, 2(1). Retrieved from https://international.aripafi.or.id/index.php/IJIER/article/download/146/149/610
- Herwanto, A., & Musyarrofah, I. (2024). Differentiated Instruction in Islamic Senior High School: Aspects, Strategies and Problems. International Journal of Education & Curriculum Application, 7(2), 117–129. https://doi.org/10.31764/ijeca.v7i2.23557
- Jauhari, I., & Thelma, R. (2024). Application of Project-Based Learning in Islamic Education using the Scientific Approach. Education and Sociedad Journal, 1(1), 45–56. https://doi.org/10.61987/edsojou.v1i1.391
- Zulfiani, A., Susanti, A., & Rahman, M. (2024). Analyzing Student Learning Style Profiles for Differentiated Learning in the Merdeka Curriculum in Elementary Schools. Cendikia: Media Jurnal Ilmiah Pendidikan, 14(3), 215–229. Retrieved from https://iocscience.org/ejournal/index.php/Cendikia/article/download/4589/3217
- Indonesian Teacher Development and Curriculum Innovation (ETDCI). (2023). Islamic Religious Education Curriculum Development Model. Indonesian Journal of Research and Educational Review, 2(4), 55–67. https://doi.org/10.51574/ijrer.v2i4.936
Artikel ini ditulis Redaktur STIT Makrifatul Ilmi Online



