STIT MI – Bengkulu Selatan. Ketika masyarakat modern semakin terjebak dalam materialisme, percepatan hidup, dan kegelisahan batin, warisan tasawuf klasik kembali menemukan relevansinya.
Melalui artikel ilmiah berjudul “Reinterpretasi Tasawuf Sunni Al-Junayd Al-Baghdadi: Kerangka Spiritualitas Disorientasi Etis Masa Kini”, Abdullah Munir dan Hurin’in AM, dosen STIT Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan, menghadirkan pembacaan segar atas pemikiran al-Junayd al-Baghdadi sebagai tawaran solusi atas krisis etika dan spiritualitas kontemporer.
Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis kajian pustaka, artikel ini mengulas sosok al-Junayd sebagai figur sufi yang tidak hanya mendalam secara spiritual, tetapi juga kokoh secara intelektual.
Tasawuf yang ia rumuskan berdiri di jalur moderat, menempatkan syariat sebagai fondasi utama, sekaligus membuka ruang bagi pengalaman batin yang terukur dan bertanggung jawab.
Penelitian ini menyoroti konsep-konsep kunci seperti mahabbah dan makrifah sebagai puncak perjalanan spiritual, serta fana dan baqa sebagai proses transformasi diri yang menuntun manusia keluar dari dominasi ego menuju kematangan moral.
Dalam konteks kehidupan modern yang sarat disorientasi nilai, kerangka ini dipandang mampu menghadirkan keseimbangan antara rasionalitas, etika, dan kedalaman spiritual.
Lebih jauh, kajian ini menegaskan bahwa pemikiran tasawuf al-Junayd memiliki kontribusi nyata bagi penguatan moderasi beragama dan pendidikan karakter.
Baca Artikel “Reinterpretasi Tasawuf Sunni Al-Junayd Al-Baghdadi: Kerangka Spiritualitas Disorientasi Etis Masa Kini”, Klik disini
Pendekatannya yang menolak ekstremisme, baik dalam bentuk legalisme kaku maupun spiritualitas tanpa pijakan, relevan untuk membangun sikap keberagamaan yang inklusif dan berkeadaban di tengah dinamika sosial dan budaya digital.
Melalui artikel ini, penulis menegaskan bahwa tasawuf Sunni al-Junayd al-Baghdadi bukan sekadar warisan intelektual masa lalu.
Ia merupakan kerangka spiritual yang kontekstual dan aplikatif, yang mampu menuntun manusia modern untuk kembali menemukan makna hidup, ketenangan batin, dan orientasi moral yang lebih utuh. []



