STIT-MI – Semangat akademik tampak memenuhi ruang sidang Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan) pada Selasa (05/11/2025). Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Agama Islam (PAI) tampil percaya diri dalam seminar proposal skripsi yang menjadi salah satu tahapan penting menuju penyusunan tugas akhir.
Kegiatan ini dihadiri oleh para dosen pembimbing dan penguji. Salah satunya, Yeni Wulandari, M.Pd., yang membimbing mahasiswa dalam proses penyusunan proposal penelitian, turut memberikan arahan dan evaluasi terhadap rancangan yang dipresentasikan.
Seminar proposal tersebut bertujuan untuk menguji dan memperkuat rancangan penelitian skripsi mahasiswa, baik dari segi kejelasan rumusan masalah, relevansi teori, hingga ketepatan metode penelitian. Para dosen memberikan masukan agar setiap penelitian yang diajukan benar-benar matang dan layak untuk dilanjutkan ke tahap penelitian lapangan.
Salah satu peserta, Afifah Lela Sari, mengaku pengalaman ini menjadi momen berharga dalam perjalanan akademiknya.
“Awalnya gugup juga sih, ngadepin penguji, tapi setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing dan penguji, saya jadi lebih memahami bagaimana menyusun penelitian yang sistematis dan fokus pada tujuan,” ujar Afifah.
Sementara itu, Yeni Wulandari, M.Pd., selaku dosen pembimbing, menilai bahwa kegiatan seminar proposal bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan proses ilmiah yang sangat penting dalam membentuk kepribadian akademik mahasiswa.
“Melalui seminar ini, mahasiswa belajar mempertanggungjawabkan setiap gagasannya secara ilmiah. Mereka dilatih untuk berpikir kritis, logis, dan terbuka terhadap masukan,” jelas Yeni.
Ia juga menekankan bahwa penelitian skripsi mahasiswa STIT Makrifatul Ilmi diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan Islam, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui hasil riset yang aplikatif.
Saat ditemui di ruang kerjanya, Ketua Program Studi PGMI, Surismi Nadapuspa, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan seminar proposal menjadi ajang pembentukan karakter ilmiah mahasiswa agar siap menghadapi tantangan dunia pendidikan modern.
“Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori. Mereka harus mampu meneliti, menganalisis, dan menawarkan solusi yang relevan terhadap persoalan pendidikan di masyarakat,” ungkap Surismi. (*)



