STIT-MI – Pendidikan karakter kini menjadi perhatian utama di tengah tantangan globalisasi dan krisis moral yang melanda dunia pendidikan. Penelitian terbaru berjudul “Kesiapan Guru dalam Mengintegrasikan Pendidikan Karakter dalam Proses Pembelajaran” yang diterbitkan dalam Jurnal Kajian Pendidikan Agama Islam (El-Makrifat), Vol. 01 No. 01, Januari–Juli 2025, mengungkap kondisi riil kesiapan guru di sekolah dasar dan menengah dalam menginternalisasikan nilai karakter.
Pendidikan Karakter: Penting tapi Belum Optimal
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru memahami pentingnya pendidikan karakter sebagai pembentuk akhlak, moral, dan tanggung jawab sosial siswa. Nilai yang sering ditekankan antara lain religius, kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan toleransi. Namun, hanya sebagian kecil guru yang mampu merancang pembelajaran dengan integrasi karakter secara sistematis dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Mayoritas guru masih menanamkan pendidikan karakter secara insidental, misalnya lewat teguran atau nasihat spontan, bukan melalui strategi pedagogis yang terencana.
Baca Juga: Tujuh Mahasiswa STIT-MI Terima Beasiswa Peningkatan Prestasi
Faktor Pendukung dan Hambatan
Beberapa temuan penting penelitian ini antara lain:
-
Sikap Positif Guru: Guru memiliki kesadaran moral bahwa mendidik karakter adalah tanggung jawab profesional.
-
Strategi Implementasi: Metode diskusi, proyek sosial, refleksi, dan studi kasus terbukti lebih efektif dibanding ceramah satu arah.
-
Hambatan: Beban administrasi, keterbatasan pelatihan, padatnya kurikulum akademik, serta belum adanya instrumen penilaian karakter yang baku.
-
Dukungan Sekolah: Lingkungan sekolah dengan budaya positif, program pembiasaan karakter, dan peran aktif kepala sekolah mampu meningkatkan kesiapan guru.
Rekomendasi Penelitian
Studi ini menegaskan perlunya:
-
Pelatihan pedagogi karakter bagi guru agar mampu menyusun RPP berbasis nilai.
-
Instrumen penilaian karakter yang lebih terukur.
-
Transformasi budaya sekolah agar pendidikan karakter tidak sekadar wacana, melainkan praktik nyata dalam keseharian siswa.
Kesimpulan
Penelitian menyimpulkan bahwa kesiapan guru belum sepenuhnya optimal. Dibutuhkan intervensi sistematis, baik melalui penguatan individu guru maupun dukungan kelembagaan sekolah. Dengan langkah strategis, pendidikan karakter bisa benar-benar menjadi pondasi kuat pembentukan Profil Pelajar Pancasila yang berakhlak mulia, cerdas, dan siap menghadapi tantangan era digital.
Untuk membaca artikel secara utuh klik disini



