STIT Makrifatul Ilmi – Pergeseran paradigma pendidikan nasional melalui Kurikulum Merdeka menuntut calon guru memiliki kompetensi profesional yang lebih adaptif, kreatif, dan kontekstual. Penelitian terbaru di STIT Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan mengungkap bahwa mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) masih menghadapi tantangan besar dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai standar Kurikulum Merdeka.
Pemahaman Kurikulum Masih Rendah
Dari hasil wawancara dan observasi, mayoritas mahasiswa hanya memahami Kurikulum Merdeka sebatas “pembelajaran fleksibel”, tanpa mampu merumuskan Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), atau mengintegrasikan nilai Profil Pelajar Pancasila dalam RPP. Hanya 3 dari 10 mahasiswa yang benar-benar memahami aspek teknis penyusunan tujuan, asesmen diagnostik, dan diferensiasi.
RPP Masih Konvensional dan Minim Inovasi
Sebanyak 60% mahasiswa sudah bisa menyusun RPP dengan struktur formal. Namun, mayoritas masih terjebak pada metode lama seperti ceramah dan tanya jawab, dengan sedikit inovasi berbasis teknologi atau pembelajaran projek. Padahal, Kurikulum Merdeka menekankan pendekatan aktif seperti Project Based Learning dan Discovery Learning.
Baca Juga: Guru yang Memahami Anak Didik
Hambatan: Kurang Pelatihan hingga Rendahnya Literasi Digital
Penelitian ini menemukan sejumlah hambatan utama, antara lain:
-
Minim pemahaman konseptual terkait Kurikulum Merdeka.
-
Rendahnya keterampilan menyusun RPP inovatif dan kontekstual.
-
Terbatasnya pengalaman microteaching dan praktik lapangan.
-
Lemahnya literasi digital sehingga media pembelajaran interaktif jarang digunakan.
Kondisi ini menunjukkan adanya gap signifikan antara teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan tuntutan implementasi nyata di madrasah.
Strategi Penguatan Kompetensi Mahasiswa
Mahasiswa menyadari perlunya penguatan profesionalisme. Beberapa solusi yang diusulkan meliputi:
-
Workshop penyusunan RPP Kurikulum Merdeka secara aplikatif.
-
Simulasi microteaching berbasis projek.
-
Pendampingan intensif oleh dosen dan praktisi sekolah.
-
Peningkatan literasi digital untuk mendukung pembelajaran inovatif.
Implikasi: Menyiapkan Guru Masa Depan
Temuan ini menegaskan bahwa penguatan kompetensi profesional calon guru PAI harus menjadi prioritas. Jika strategi pendampingan dan pelatihan berkelanjutan diterapkan, mahasiswa STIT Makrifatul Ilmi diharapkan mampu menjadi guru profesional, kreatif, dan siap menghadapi tantangan Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah.
Untuk membaca artikel secara utuh klik disini
#KurikulumMerdeka #PAI #STITMakrifatulIlmi #RPP #GuruMasaDepan #PendidikanIslam



