Fenomena mahasiswa yang mempresentasikan tugas dengan mata terpaku pada ponsel atau layar laptop kini menjadi pemandangan lumrah di ruang kuliah. Mereka berdiri di depan kelas, membaca teks dari layar tanpa ekspresi, tanpa kontak mata, tanpa improvisasi. Presentasi, yang semestinya menjadi ajang melatih keberanian berbicara dan mengasah kemampuan berpikir kritis, kini berubah menjadi kegiatan membaca ulang tulisan sendiri.
Sekilas tampak sepele. Namun, di balik kebiasaan itu tersimpan gejala serius: krisis intelektual dan degradasi etos akademik di kalangan mahasiswa. Mereka tidak lagi berbicara dengan pemahaman, tetapi sekadar membacakan hasil pencarian daring yang mungkin bahkan belum mereka cerna.
Antara Formalitas dan Esensi
Dalam tradisi akademik, presentasi bukan hanya bentuk penilaian, melainkan proses pembentukan diri, melatih kemampuan berargumen, mengolah informasi, dan mengkomunikasikan ide secara sistematis. Ketika kegiatan itu direduksi menjadi sekadar membaca teks, maka hilanglah makna pendidikan yang sesungguhnya: membangun manusia yang berpikir, bukan sekadar menyalin informasi.
Krisis ini menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa kini lebih takut salah berbicara daripada salah berpikir. Mereka mencari aman dengan membaca kalimat demi kalimat dari HP, tanpa memberi ruang bagi spontanitas intelektual. Padahal, dalam dunia akademik, risiko salah bicara adalah bagian dari proses belajar; sedangkan takut berpikir adalah awal dari stagnasi.
Salah Siapa?
Menyalahkan mahasiswa semata tentu tidak adil. Sistem pembelajaran di kampus pun turut berperan. Banyak dosen yang lebih menekankan aspek administratif daripada aspek reflektif. Nilai sering diberikan atas dasar kelengkapan makalah dan slide, bukan pada kemampuan menjelaskan atau mempertahankan argumen. Mahasiswa pun akhirnya menganggap presentasi hanyalah formalitas akademik, bukan ruang intelektual.
Selain itu, pola pembelajaran yang masih bersifat satu arah turut memperlemah budaya dialog. Kampus sering kali lebih sibuk dengan akreditasi dan standar mutu administratif daripada menumbuhkan atmosfer akademik yang hidup dan dinamis. Dalam situasi semacam ini, mahasiswa kehilangan ruang untuk berlatih berbicara, berdiskusi, dan berdebat secara sehat.
Membangun Kembali Tradisi Akademik
Jika ingin melahirkan generasi pemikir, kampus harus mengembalikan makna sejati presentasi. Mahasiswa perlu diarahkan untuk memahami materi dan mengomunikasikannya dengan bahasa sendiri. Dosen perlu memberi teladan: menilai proses berpikir, bukan hanya hasil tulisannya.
Baca Juga: Perbandingan Definisi Pendidikan Agama Islam di Berbagai Negara dan Adaptasi Lokal Bengkulu Selatan
Lebih jauh, kampus perlu menumbuhkan budaya akademik yang menghargai argumentasi, bukan hanya konformitas. Presentasi seharusnya menjadi ruang dialog, tempat mahasiswa belajar berani berbeda pendapat, mengajukan gagasan, dan menerima kritik.
Akhirnya: Saatnya Bicara, Bukan Membaca
Membaca dari HP mungkin tampak praktis, tetapi jika terus menjadi kebiasaan, maka yang hilang bukan hanya kualitas presentasi, melainkan jati diri mahasiswa sebagai insan akademik. Perguruan tinggi akan kehilangan maknanya jika tidak lagi mampu melahirkan manusia yang berpikir dan berbicara dengan nurani ilmu.



