• Call: +60 8 123 000
  • E-mail: info@gmail.com
  • Login
Education Blog
  • Home
  • About Us
    • History
    • Vision, Mission & Objective
    • Motto
    • Strategic Plan
    • Organization
    • Mars
  • Academics
    • Academic Calender
    • Academic Guideline
  • Classis
    • Management
    • Teaching
    • Stories
    • Learning
    • Studying
    • Remedy
  • Tarbiyah
    • Prodi PAI
    • Prodi PGMI
  • Campus Life
    • Facilities
    • What is Campus Life
    • Student Organizations
    • Alumni Organization
  • PMB
  • Siakad
  • Journal
    • OJS el_Makrifah
    • ISSN
  • Info
No Result
View All Result
STIT MI BENGKULU SELATAN
No Result
View All Result
Home News

Tradisi Basuh Dusun di Bengkulu Selatan Dikaji dari Perspektif Aswaja, Begini Temuan Penelitinya

officialstitmi by officialstitmi
July 28, 2026
in News
0
Liza Wahyuninto

Liza Wahyuninto

Share on FacebookShare on Twitter

STIT-MI, BENGKULU SELATAN – Di tengah derasnya arus modernisasi, sejumlah masyarakat di Indonesia masih mempertahankan hukum adat sebagai bagian dari mekanisme menjaga ketertiban sosial. Salah satu tradisi yang masih hidup hingga kini adalah Basuh Dusun di Desa Durian Seginim, Kabupaten Bengkulu Selatan. Tradisi tersebut menjadi objek kajian ilmiah dalam edisi terbaru Jurnal El-Makrifah Volume 4 Nomor 1 Tahun 2026 melalui penelitian yang dilakukan oleh Liza Wahyuninto.

Penelitian ini menarik perhatian karena mengangkat persoalan yang kerap memunculkan perdebatan, yakni bagaimana tradisi adat yang diterapkan sebagai respons terhadap pelanggaran norma kesusilaan dapat dipahami dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Di tengah berkembangnya pandangan yang sering mempertentangkan agama dan budaya, penelitian ini justru menunjukkan adanya ruang dialog antara keduanya.

Di Desa Durian Seginim, Basuh Dusun tidak sekadar dipahami sebagai ritual adat. Masyarakat meyakini bahwa pelanggaran norma, khususnya perbuatan zina, tidak hanya berdampak pada individu pelaku, tetapi juga dapat mengganggu keseimbangan sosial dan spiritual desa. Karena itu, Basuh Dusun dilaksanakan sebagai bentuk pemulihan kehidupan bersama sekaligus penguatan nilai-nilai moral yang diyakini masyarakat.

Melalui pendekatan penelitian kualitatif, penulis melakukan observasi lapangan dan wawancara dengan tokoh agama, tokoh adat, perangkat desa, serta masyarakat setempat. Pendekatan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana tradisi ini dipertahankan, dimaknai, dan terus mengalami penyesuaian dengan perkembangan kehidupan masyarakat.

Baca: Basuh Dusun: Ketika Hukum Adat, Moralitas, dan Nilai Aswaja Bertemu dalam Menjaga Keharmonisan Masyarakat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Basuh Dusun memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar pemberian sanksi sosial. Tradisi tersebut menjadi sarana reintegrasi sosial yang bertujuan mengembalikan keharmonisan masyarakat setelah terjadi pelanggaran norma. Prosesi yang melibatkan musyawarah adat, doa bersama, hingga simbolisasi penyucian lingkungan mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan dalam menjaga tatanan kehidupan desa.

Yang menarik, penelitian ini menemukan adanya transformasi makna dalam praktik Basuh Dusun. Jika pada masa lalu ritual tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh kepercayaan lokal, kini pelaksanaannya semakin menonjolkan nilai-nilai Islam melalui doa bersama, permohonan ampun kepada Allah SWT, serta penguatan solidaritas antarwarga. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Dalam perspektif Aswaja, praktik Basuh Dusun dianalisis menggunakan konsep ‘urf atau kebiasaan masyarakat yang dapat menjadi pertimbangan dalam kehidupan keagamaan selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kearifan lokal tidak selalu berada pada posisi yang berseberangan dengan ajaran Islam, tetapi dapat menjadi media untuk memperkuat kemaslahatan masyarakat.

Kajian ini sekaligus memperkaya diskursus mengenai hubungan antara hukum adat dan hukum Islam di Indonesia. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa tradisi lokal masih memiliki fungsi penting sebagai instrumen penguatan moral, solidaritas sosial, dan identitas budaya masyarakat.

Melalui artikel ini, Jurnal El-Makrifah kembali menghadirkan kajian yang tidak hanya mengangkat isu-isu keislaman, tetapi juga menyoroti dinamika kehidupan masyarakat Indonesia melalui pendekatan akademik yang kontekstual. Penelitian tentang Basuh Dusun menjadi pengingat bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan ruang dialog yang terus berkembang antara nilai agama, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat.

Previous Post

Basuh Dusun: Ketika Hukum Adat, Moralitas, dan Nilai Aswaja Bertemu dalam Menjaga Keharmonisan Masyarakat

Next Post

Bisakah Sebuah Tradisi Adat Berjalan Seiring dengan Ajaran Islam?

officialstitmi

officialstitmi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dr. H. Abdullah Munir, M.Pd.

Most commented

Dakwah yang Merangkul, Bukan Menghakimi: Wasathiyah sebagai Jalan Merawat Kerukunan di Tengah Keberagaman

Rahmat atau Ancaman? Menegaskan Kembali Wajah Islam di Tengah Narasi Global yang Keliru

Media Sosial Mempermudah Ghibah? Penelitian Ini Mengingatkan Kembali Pesan Al-Qur’an dan Hadis

Bisakah Sebuah Tradisi Adat Berjalan Seiring dengan Ajaran Islam?

Tradisi Basuh Dusun di Bengkulu Selatan Dikaji dari Perspektif Aswaja, Begini Temuan Penelitinya

Basuh Dusun: Ketika Hukum Adat, Moralitas, dan Nilai Aswaja Bertemu dalam Menjaga Keharmonisan Masyarakat

STIT MI BENGKULU SELATAN

Official Website | Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan

Tags

#Munaqasyah #PPL #STITMI #STIT-MI #STITMI #stit_mi #Ujian_Komprehensif #Yudisium Abdullah Munir Akademik Akreditasi Arif Luthfi Artikel BAAK Beasiswa Canva CEL Dema Dosen Guru HSN Kampus Karakter Kompetisi Kukerta Kuliah Liza Wahyuninto Mahasiswa Maulid Nabi MoU Official OJS PAI Pembinaan Peta Konsep PKKMB pmb Prestasi Proposal Seminar Serdos Sinopsis Skripsi Surismi Nada Puspa Workshop Yeni Wulandari

Recent News

Dakwah yang Merangkul, Bukan Menghakimi: Wasathiyah sebagai Jalan Merawat Kerukunan di Tengah Keberagaman

Dakwah yang Merangkul, Bukan Menghakimi: Wasathiyah sebagai Jalan Merawat Kerukunan di Tengah Keberagaman

July 28, 2026
Pengertian, Tujuan, Dasar, dan Fungsinya

Rahmat atau Ancaman? Menegaskan Kembali Wajah Islam di Tengah Narasi Global yang Keliru

July 28, 2026

© by: Suport | 2021 | STIT MI Official.

No Result
View All Result
  • Home
  • About Us
    • History
    • Vision, Mission & Objective
    • Motto
    • Strategic Plan
    • Organization
    • Mars
  • Academics
    • Academic Calender
    • Academic Guideline
  • Classis
    • Management
    • Teaching
    • Stories
    • Learning
    • Studying
    • Remedy
  • Tarbiyah
    • Prodi PAI
    • Prodi PGMI
  • Campus Life
    • Facilities
    • What is Campus Life
    • Student Organizations
    • Alumni Organization
  • PMB
  • Siakad
  • Journal
    • OJS el_Makrifah
    • ISSN
  • Info

© by: Suport | 2021 | STIT MI Official.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In