STIT MI – Penelitian mengenai hubungan antara hadis dan neurosains selama ini umumnya berfokus pada upaya menunjukkan kesesuaian antara ajaran Islam dan temuan-temuan ilmiah. Pendekatan tersebut cenderung menghasilkan pemahaman yang linear mengenai hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan.
Padahal, studi hadis dan neurosains memiliki landasan epistemologis, objek kajian, serta tujuan yang berbeda. Karena itu, hubungan keduanya dinilai lebih tepat dikembangkan melalui pendekatan interdisipliner yang memungkinkan kedua bidang ilmu berdialog tanpa harus menempatkan salah satunya sebagai pembenar bagi yang lain.
Kajian ini secara khusus menganalisis konsep ʿaql (akal) dan kesadaran dalam hadis, sekaligus mengkaji berbagai teori neurosains kontemporer mengenai fungsi otak, proses kognitif, pengaturan emosi, dan kesadaran manusia. Dari kajian tersebut kemudian dibangun sebuah dialog konseptual antara perspektif hadis dan neurosains.
Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan. Analisis isi digunakan untuk mengkaji hadis-hadis yang berkaitan dengan konsep akal dan kesadaran, kemudian dipadukan dengan pendekatan interdisipliner serta literatur neurosains kontemporer yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis menempatkan ʿaql sebagai salah satu dasar tanggung jawab moral dan spiritual manusia. Sementara itu, qalb dipahami sebagai pusat kehidupan batin, sedangkan kesadaran mencakup kesadaran terhadap Tuhan, diri sendiri, dan orang lain.
Di sisi lain, neurosains menjelaskan berbagai fungsi tersebut melalui mekanisme biologis yang melibatkan jaringan saraf di dalam otak. Sejumlah bagian otak, seperti prefrontal cortex, hippocampus, amygdala, dan anterior cingulate cortex, memiliki peran dalam proses kognitif, pengaturan emosi, pengambilan keputusan, serta berbagai aspek kesadaran. Kajian ini juga mempertimbangkan Global Neuronal Workspace Theory, salah satu teori kontemporer yang digunakan untuk menjelaskan mekanisme kesadaran manusia.
Dari perspektif interdisipliner, hadis dan neurosains tidak menunjukkan hubungan yang semata-mata bersifat saling membenarkan. Sebaliknya, keduanya dapat ditempatkan sebagai perspektif yang saling melengkapi.
Hadis memberikan pemahaman normatif, etis, dan spiritual mengenai hakikat manusia, sementara neurosains menjelaskan mekanisme biologis yang mendasari proses kognitif, pengaturan emosi, dan kesadaran.
Dengan demikian, dialog antara hadis dan neurosains dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai manusia. Manusia tidak hanya dipahami sebagai makhluk biologis yang bekerja melalui sistem saraf dan otak, tetapi juga sebagai makhluk yang memiliki dimensi moral, spiritual, dan kesadaran terhadap Tuhan, diri sendiri, serta lingkungan sosialnya.
Baca Artikel Selengkapnya Klik disini


