Di antara kondisi yang perlu diperhatikan oleh guru agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan siswa dapat aktif mengikuti pembelajaran adalah kemampuan guru memahami modalitas belajar siswa. Di mana modalitas belajar merupakan kecenderungan masing-masing individu dalam menyerap informasi yang diterima, antara individu yang satu dengan yang lain berbeda. Adakalanya, cenderung pada visual (cara menyerap informasi melalui gambar, tulisan, sketsa, lukisan dan sebagainya), ada yang cenderung pada auditorial (cara menyerap informasi melalui bunyi dan suara), dan adakalanya cenderung pada kinestetik (cara menyerap informasi melalui gerakan dan sentuhan). Realitas di tempat pembelajaran, modalitas belajar anak didik beragam, ada yang visual, auditorial, dan kinestetik. Oleh karena itu, guru diharapkan memahami ciri-ciri gaya belajar dari anak didik agar pembelajaran yang dilaksanakan bisa berjalan maksimal.
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (2002) menjelaskan untuk mengenali ciri-ciri masing-masing gaya belajar anak dapat dilihat dari tanda-tanda yang ada pada diri anak. Gaya visual bisa dilihat dari kerapian dan keteraturan anak, berbicara cepat, dapat merencanakan dan mengatur jangka panjang dengan baik, teliti terhadap detail, mementingkan penampilan baik dalam hal pakaian maupun presentasi, pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran, mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar, mengingat dengan asosiasi visual, biasanya tidak terganggu oleh keributan, pembaca cepat dan tekun, lebih suka membaca daripada dibacakan, sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat “ya” atau “tidak”, lebih suka melakukan demonstrasi darpada berpidato, lebih suka seni dariapada musik, seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan tetapi tidak pandai memilih kata-kata, terkadang kehilangan konsentrasi ketika ingin memperhatikan sesuatu. Itulah beberapa ciri-ciri yang bisa dijadikan oleh guru untuk mengenal tipe siswa bergaya visual.
Selanjutnya, bagi yang bergaya belajar auditorial memiliki ciri-ciri dalam menyerap informasi saat belajar dapat dilihat dari tanda-tandanya pada diri siswa, di antaranya: berbicara kepada diri sendiri saat bekerja, mudah terganggu oleh keributan, menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan ketika membaca buku, senang membaca dengan keras dan mendengarkan, dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara (timbre), kesulitan untuk menulis tetapi mudah dalam berceritera, berbicara dengan irama terpola, pembicara yang fasih, lebih suka musik daripada seni, belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat, suka berbicara, berdiskusi dan bicara panjang lebar, kesulitan melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan visualisasi, pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya, serta lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik.
Terakhir, ciri-ciri siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik, yaitu: berbiacara perlahan, menanggapi perhatian fisik, menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian, berdiri dekat dengan lawan berbicara, berorientasi fisik dan banyak gerak, belajar melalui manipulasi dan praktik, menghafal dengan cara berjalan dan melihat, menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca, banyak menggunakan isyarat tubuh, tdak dapat duduj diam dalam waktu lama, tidak dapat mengingat geografi, kecuali pernah berada ditempat itu, menggunakan kata-kata yang mengandung aksi, kemungkinan tulisannya jelek, ingin melakukan segala sesuatu, dan menyukai permainan yang menyibukkan. Itulah beberapa ciri-ciri yang dapat digunakan oleh guru ketika mengajar sehingga diharapkan proses pembelajaran dapat maksimal karena arus informasi yang diberikan oleh guru sejalan dengan daya tangkap yang dimiliki oleh siswa.
Menurut Adi W. Gunawan (2004) ada ciri-ciri lain yang juga dapat digunakan untuk mengenali gaya belajar siswa, gaya visual: gerakan bola mata kea rah atas, bernapas dengan pernapasan dada, napasnya dangkal dan pendek, nada suaranya tinggi, mengakses informasi dengan meihat ke atas, dan tempo bicara cepat. Sedangkan gaya auditorial, ditandai dengan gerakan bola mata sejajar telinga, napas merata di daerah diafragma, suara jelas dan kuat, bicara sedikit lebih lambat dari individu visual, mengakses informasi dengan menengadahkan kepala. Seljutnya, siswa bergaya belajar kinestetik ditandai dengan ciri-ciri: gerakan bola mata kea rah bawah, pernapasan perut dan dalam, suara cenderung berat, menggunakan gerakan atau bahasa tubuh, dan mengakses informasi sambil melihat ke bawah.
Guru sebagai pendidik dan pengajar dalam melaksanakan tranformasi ilmu dan nilai kepada anak didik biasanya cenderung menggunakan modalitas belajarnya sendiri yang akan digunakan saat mengajar. Guru yang modalitas belajarnya visual akan cenderung mengajar menggunakan visual, yang auditorial cenderung auditorial, dan yang kinestetik juga cenderung kinestetik. Jika ada seorang guru memiliki kecenderungan yang demikian tanpa memerhatikan modalitas belajar anak didik yang beragam maka sudah bisa dipastikan proses tranformasi ilmu tidak akan dapat maksimal, tentu yang paling beruntung anak didik yang memiliki kesamaan modalitas belajar dengan guru dan yang paling dirugikan yang memiliki modalitas belajar yang berbeda dengan guru.
Salah satu penyebab kegagalan pembelajaran adalah ketidakmampuan guru memahami modalitas belajarnya sendiri dan juga tidak memahami modalitas belajar siswa. Oleh karena itu, guru harus mampu menyesuaikan diri dalam mengajar sesuai dengan modalitas belajar anak didik agar informasi dan tranformasi ilmu yang diberikan kepada anak didik mudah diserap, jangan sampai memaksakan modalitas belajar (mengajar) yang dimiliki kepada anak didik, tetapi guru harus menyampaikan secara beragam sesuai dengan modalitas belajar anak didik sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan baik karena semua kecenderungan siswa dalam menyerap informasi terlayani oleh guru. Guru yang baik tentu memahami kecenderungan modalitas belajar yang dimiliki anak didik agar informasi dan transfer ilmu yang diberikan tidak terjadi simpangan akibat dari guru yang tidak mempu menyingkronkan gaya mengajar (modalitas belajar) sendiri dengan modalitas yang dimiliki anak didik.
Komunikasi dalam Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran interaksi yang dilakukan antara guru dan anak didik sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Interaksi pembelajaran merupakan salah satu bentuk komunikasi yang dilakukan oleh guru dan murid. Dalam pembelajaran, penyampaian komunikasi yang baik sangat menentukan anak didik dalam menyerap pelajaran yang disampaikan oleh guru. Berbicara komunikasi yang baik tidak lepas dari empat elemen komunikasi: Pertama, pesan yaitu isi atau materi yang akan disampaikan, dalam Kegiatan Belajar Mengajar merupakan materi pelajaran yang akan disampaikan kepada anak didik. Kedua, penyampai pesan yaitu orang yang menyampaikan pesan, dalam pembelajaran penyampai pesan adalah guru, instruktur, pelatih dan sebagainya. Ketiga, penerima pesan yaitu orang yang menerima pesan, dalam hal ini adalah siswa yang sedang mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar. Keempat, media komunikasi yaitu alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan, alat di sini dapat berupa alat peraga, media audio, media audio, maupun media audio-video.


