• Call: +60 8 123 000
  • E-mail: info@gmail.com
  • Login
Education Blog
  • Home
  • About Us
    • History
    • Vision, Mission & Objective
    • Motto
    • Strategic Plan
    • Organization
    • Mars
  • Academics
    • Academic Calender
    • Academic Guideline
  • Classis
    • Management
    • Teaching
    • Stories
    • Learning
    • Studying
    • Remedy
  • Tarbiyah
    • Prodi PAI
    • Prodi PGMI
  • Campus Life
    • Facilities
    • What is Campus Life
    • Student Organizations
    • Alumni Organization
  • PMB
  • Siakad
  • Journal
    • OJS el_Makrifah
    • ISSN
  • Info
No Result
View All Result
STIT MI BENGKULU SELATAN
No Result
View All Result
Home Article

Guru yang Memahami Anak Didik

Guru sebagai salah satu komponen dalam Kegiatan Belajar Mengajar sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukan di tempat pendidikan. Guru diibaratkan sebagai seorang sopir, sangat menentukan bagaimana kendaraan yang dijalankan dapat berjalan baik sesuai tujuan dan sekaligus penumpang yang dibawa merasa nyaman dalam perjalanan.

officialstitmi by officialstitmi
January 22, 2021
in Article
0
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam pembelajaran keempat elemen komunikasi tersebut sangat penting diperhatikan oleh guru di saat mengajar anak didik. Pesan, dalam pembelajaran merupakan sekumpulan materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada anak didik. Kemampuan guru dalam meramu materi pembelajaran yang sistematis dan logis sangat membantu anak didik dalam menyerap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, sistematis di sini dapat dipahami bahwa materi yang akan disampaikan dibuat atau disusun berdasarkan pola pikir anak agar anak mudah mempelajari dan mengingat materi yang disampaikan oleh guru. Guru bisa menerapkan teori akar pohon Tony Buzan dalam mengembangkan materi yang akan disampaikan kepada anak didik.

Guru sebagai penyampai pesan kepada siswa bukan sekedar menyampaikan materi  untuk diserap oleh siswa, apakah siswa menegerti atau tidak materi yang disampaikan, apakah perasaan siswa senang atau tidak dengan penampilan dan cara mengajar yang dilakukan oleh guru, itu bukan urusan guru. Jika kondisi ini terjadi dalam proses pembelajaran jangan diharapkan siswa dapat maksimal mengikuti kegiatan pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu, seorang guru harus memahami aspek kejiwaan siswa saat pem-belajaran berlangsung. Biasanya ada sebagian guru begitu masuk di ruang kelas langsung menyampaikan materi pelajaran yang diasuhnya tanpa memperhatikan apakah siswa sudah siap atau belum. Hal ini sering terjadi, karena ketidaksiapan atau belum siapnya siswa mengikuti pelajaran begitu diberikan umpan balik pertanyaan atau tanggapan, siswa gelagapan karena tidak siap menjawab atau memberi komentar apa yang dilontarkan oleh guru.

Kemampuan guru dalam memahami kejiwaan siswa sangat penting jika ingin sukses dalam melaksanakan pembelajaran. Kondisi kejiwaan di sini, bagaimana seorang guru mampu menciptakan suasana hati anak didik agar bahagia, senang, gembira, bebas dari rasa takut, rasa tertekan. Kondisi-kondisi ini perlu dipahami oleh seorang guru karena terkait secara langsung dengan kemampuan anak dalam menyerap pelajaran yang disampaikan oleh guru saat pembelajaran. Hal yang lumrah sering ditemukan di ruang belajar, jika guru melontarkan pertanyaan “Siapa yang belum paham?” atau “Ada pertanyaan?” untuk mengetahui seberapa besar materi yang disampaikan diserap oleh siswa. Namun, apa yang terjadi seringkali siswa diam seribu bahasa, siswa takut bertanya atau takut menjawab. Penyakit ini sering menghinggapi siswa, kalau diselidiki mengapa itu terjadi, alasannya beragam, ada yang takut salah, malu, tidak mengerti apa yang harus ditanyakan atau dijawab.

Takut bertanya merupakan penyakit yang banyak menjangkiti para siswa saat belajar, kondisi ini dialami oleh siswa bukan tanpa sebab, bisa jadi karena pengalaman psikologis masa kecil yang dilalui oleh siswa, dan bisa jadi kondisi atau situasi di ruang belajar yang tidak nyaman. Pengalaman masa kecil, misalnya pola asuh yang terapkan oleh orang tua sangat berpengaruh kelak ketika memasuki dunia sekolah di mana siswa harus berinteraksi dengan kawan maupun guru, serta lingkungannya. Ketika orang tua tidak memahami bagaimana seharusnya memilih pola asuh yang tepat untuk diterapkan kepada anak maka saat itu juga akan tertanam secara psikologis pada diri anak. Salah satu sifat dasar individu adalah rasa ingin tahu yang begitu besar terhadap lingkungan dan hal-hal baru yang belum pernah dilihatnya, misalnya ketika anak bertanya tentang masalah yang mungkin dianggap tidak pantas atau tabu oleh orang tua, lantas orang tua menjawab dengan kata-kata hus, jangan, tidak boleh. Maka saat itu jugalah orang tua telah membunuh rasa ingin tahu yang ada pada diri anak, dan tanpa disadari oleh anak bahwa rasa ingin tahu atau penasaran yang merupakan modal atau bibit untuk bertanya maka mati seketika itu juga. Tentu sebagai orang tua harus bijak menjawab apa yang menjadi pertanyaan anak, jangan sampai membunuh potensi yang akan dikembangkan saat belajar di bangku sekolah. Lebih parahnya jika pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tersebut terus berlanjut tidak ada perubahan, maka sudah bisa dipastikan anak akan takut bertanya saat belajar di sekolah. Oleh karena itu, orang tua hendaknya memahami pola asuh yang tepat jangan sampai potensi-potensi yang semestinya berkembang mati sebelum waktunya.

Dalam pembelajaran seorang guru hendaknya memaksimalkan penggunaan potensi diri siswa yang terdiri dari potensi akal (pikiran), potensi hati (perasaan) dan potensi jasmani (fisik). Keselarasan ketiga potensi tersebut sangat penting untuk mendukung keberlang-sungan anak dalam mengikuti pembelajaran. Di sini yang perlu difokuskan adalah keselarasan antara pikiran dan perasaan. Pikiran mewakili kecerdasan intelektual anak dan perasaan mewakili kecerdasan emosional anak. Saat belajar seorang siswa dapat menyerap materi pembelajaran ketika antara pikiran dan perasaan dalam kondisi selaras. Keselaran ini dapat terjadi ketika guru mengajar mampu menciptakan suasana dan kondisi pembelajaran yang menyenangkan. Kondisi menyenangkan atau tidak, ini sangat dipengaruhi oleh diri siswa yang bersangkutan ketika berada di tempat pembelajaran.

Pikiran dan perasaan yang terjadi pada siswa sangat dipengaruhi oleh fungsi-fungsi otak yang ada pada diri siswa. Guru harus paham akan bagian-bagian otak dan fungsi-fungsi otak tersebut. Secara fisik otak manusia terdiri dari belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Masing-masing belahan tersebut memiliki fungsi yang berbeda dan perbengaruh terhadap pola pikir siswa. Anna Craft (2003) menyebutkan bahwa otak kiri memiliki tugas yang berkaitan dengan analisis, matematis, bahasa verbal, hal linier dan lateral, sedangkan otak kanan memiliki tugas yang berhubungan dengan metafora (memahami kiasan) imajinasi, bahasa non-verbal, holistik (menyeluruh), spasial, musik, artistik, emosional, seksual, spiritual, dan mimpi-mimpi. Sedangkan menurut Utami Munandar (1999) belahan otak kiri lebih mengarah kepada hal-hal yang berkaitan dengan: intelek, konvergen, intelektual, rasional, verbal horizontal, konkret, realistik, diarahkan, diferensial, sekuensial, historikal, analitis, eksplisit, objektif, dan suksesif. Sedangkan bagian belahan otak kanan lebih dominan kepada hal-hal yang berkaitan dengan: intuisi, divergen, emosional, metaforik, vertikal, abstrak, impulsive, bebas, eksistensial, multiple (majemuk), tanpa batas waktu, sintetis, implisit, subjektif, dan simultan. Ciri-ciri ini dapat dipedomani oleh guru untuk mengetahui dominasi otak para siswa. Di samping itu untuk melihat apakah siswa dominan otak kiri atau kanan dapat juga dilakukan melalui gerakan menepuk kedua tangan, jika ibu jari kanan berada di atas ibu jari sebelah kiri maka otak kanan yang dominan, begitu juga sebaliknya jika ibu jari kiri berada di atas ibu jari kanan maka otak sebalah kanan yang dominan.

Implikasi dari otak kiri dan otak kanan dalam pembelajaran, jika seorang guru hendaknya dapat memaksimalkan dan menyeimbangkan mana otak yang tidak dominan menjadi setara, agar potensi yang kurang maksimal dapat ditingkatkan sehingga dapat menumbuhkan kreativitas siswa dalam belajar. Sering kali terjadi, guru lebih mengunggulkan siswa yang lebih dominan otak kiri, karena dianggap sebagai siswa yang intelektual dan logis serta kelihatan cerdas dibanding siswa yang dominan otak kanan yang kelihatan semrawut acak-acakan dan kurang teratur. Pada hal semestinya pemahaman guru tidak begitu karena setaip individu (siswa) harus dimaksimalkan penggunaan seluruh fungsi otak, baik otak sebelah kiri maupun otak sebelah kanan. Jika sampai terjadi seorang guru hanya memaksimalkan penggunaan otak anak sebagian belahan saja, jangan diharap potensi-potensi yang semestinya dapat berkembang menjadi mati atau hilang hanya gara-gara seorang guru tidak tahu atau tidak mau mengembangkan potensi otak yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, seorang guru seharusnya mampu menggabungkan seluruh fungsi otak tanpa membedakan belahan otak kiri-kanan, otak besar-kecil, otak tengah-depan-belakang dalam praktik pembelajaran sehingga kreativitas yang ada pada diri siswa dapat muncul secara maksimal, tidak ada lagi diskriminasi dalam keunggulan otak tertentu.

Pemaksimalan potensi otak siswa diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas siswa dalam belajar, salah satu usaha yang ditempuh oleh guru agar kreativitas belajar siswa dapat tumbuh dan berkembang adalah pemaksimalan pancaindra siswa. Selama ini sering ditemui dalam pembelajaran di kelas, seorang guru lebih banyak ceramah yang hanya melibatkan indra pendengaran saja dan kalaupun ada yang melibatkan unsur indra lain, mungkin indra penglihatan itu pun sedikit sekali. Padahal indra yang lain (penciuman, pengecap, perasa) tak kalah penting dengan kedua indra yang lain. Hal ini harus disadari oleh semua guru bahwa gerbang ilmu pengetahuan masuk ke dalam diri siswa tidak lain dan tidak bukan pancaindralah jalannya. Jika selama ini guru hanya fokus ke salah satu alat indra saja diharapkan dapat mengubah kebiasaan tersebut dengan memaksimalkan seluruh alat indra siswa, mulai dari melihat, mendengar, meraba, mencium, dan mengecap. Penggunaan seluruh alat pancaindra untuk mengikuti proses pembelajaran, hasil akhirnya agar siswa dapat menyerap pembelajaran secara beragam sesuai kecenderungan gaya belajar masing-masing siswa.

Memahami Fungsi Otak

Seluruh aktivitas kehidupan manusia mulai bangun tidur sampai tidur lagi dikendalikan oleh otak. Otak dapat diibratkan sebagai prosesor dalam sebuah komputer, yang mengatur seluruh lalu-lintas data, baik data masuk maupun data keluar semua diproses melewati prosesor. Begitu juga dengan manusia, seluruh kegiatannya dikendalikan oleh otak, baik emosi, gerakan, respon dan sebagainya. Semua itu dikendalikan oleh organ inti manusia yang ada di kepala yaitu otak. Otak manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu otak: reptil, Limbik dan neokorteks.

Page 3 of 5
Prev12345Next
Tags: Arif LuthfiGuruKarakter
Previous Post

Mahasiswa STIT Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan Lepas 30 Ribu Benih Lele

Next Post

Pengertian Pendidikan Agama Islam

officialstitmi

officialstitmi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dr. H. Abdullah Munir, M.Pd.

Most commented

Kartini Dirayakan, Tapi Belum Dipahami

Kabupaten Bengkulu Selatan

Strategi Penguatan Kompetensi Mahasiswa PAI dan PGMI di Era Pendidikan Digital

Integrasi Kurikulum Cinta dalam Pembelajaran Fiqih: Membangun Karakter Spiritual Peserta Didik

Menelaah Kembali Sahabat Nabi: Antara Otoritas, Konflik, dan Tantangan Keislaman Kontemporer

Etika dan Regulasi AI dalam Dunia Pendidikan: Tantangan dan Tanggung Jawab Bersama

STIT MI BENGKULU SELATAN

Official Website | Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan

Tags

#Munaqasyah #PPL #STITMI #STIT-MI #STITMI #stit_mi #Ujian_Komprehensif #Yudisium Abdullah Munir Akademik Akreditasi Arif Luthfi Artikel BAAK Beasiswa Canva CEL Dema Dosen Guru HSN Kampus Karakter Kompetisi Kukerta Kuliah Liza Wahyuninto Mahasiswa Maulid Nabi MoU Official OJS PAI Pembinaan Penelitian Peta Konsep PKKMB pmb Prestasi Proposal Seminar Serdos Skripsi Surismi Nada Puspa Workshop Yeni Wulandari

Recent News

Kartini Dirayakan, Tapi Belum Dipahami

Kartini Dirayakan, Tapi Belum Dipahami

April 20, 2026
Peta Bengkulu Selatan

Kabupaten Bengkulu Selatan

April 6, 2026

© by: Suport | 2021 | STIT MI Official.

No Result
View All Result
  • Home
  • About Us
    • History
    • Vision, Mission & Objective
    • Motto
    • Strategic Plan
    • Organization
    • Mars
  • Academics
    • Academic Calender
    • Academic Guideline
  • Classis
    • Management
    • Teaching
    • Stories
    • Learning
    • Studying
    • Remedy
  • Tarbiyah
    • Prodi PAI
    • Prodi PGMI
  • Campus Life
    • Facilities
    • What is Campus Life
    • Student Organizations
    • Alumni Organization
  • PMB
  • Siakad
  • Journal
    • OJS el_Makrifah
    • ISSN
  • Info

© by: Suport | 2021 | STIT MI Official.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In