Adanya kesempatan yang dimiliki oleh siswa untuk melakukan gerakan-gerakan fisik dalam belajar merupakan modal yang luar biasa untuk siswa dalam memaksimalkan fungsi otaknya. Mungkin dalam benak seorang guru bahwa siswa yang cerdas itu adalah siswa yang pandai membaca atau siswa yang pandai dalam menulis. Jika diperhatikan, umpamanya aktivitas menulis, gerakan hanya focus pada kemampuan memainkan jari-jemari tangan dan gerakan mata yang mana gearakan tersebut tidak sesulit gerakan seperti memaikan bola dimana hamper seluruh anggota badan bergerak. Gerakan-gerakan ini tentuk berkoordinasi dengan system otak yang ada pada anak. Oleh karena itu, setiap pembelajaran guru diharapkan dapat memaksimalkan seluruh anggota tubuh dan pancaindra untuk belajar, misalnya guru dapat melakukan gerakan sederhana seperti senam otak, atau apa yang diucapkan dalam memberi contoh diikuti dengan gerakan dan siswa diminta untuk mengikuti.[]
DAFTAR PUSTAKA
Bobbi DePorter dan Mike Haernacki. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. 2002. Bandung: Penerbit Kaifa.
Adi W. Gunawan. Genius Learning Strattegy: Petunjuk Praktis untuk Menerapkan Accelerated Learning. 2004. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Anna Craft. Membangun Kreativitas Anak. 2003. Jakarta: Inisiasi Press.
Utami Munandar. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. 1999. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Khoirotul Idawati & Hanifuddin Mahadun. Bedah Otak: Cinta dan Kecerdasan, Strategi Meningkatkan Kecerdasan Anak/Siswa. 2008. Mojokerto: CV Fajar.
Jalaluddin Rakhmat. Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak. 2007. Bandung: Mizan Learning Center (MLC).
Ditulis Oleh: Muhammad Arif Luthfi


